23 May 2010

Kitab
Takut dan
Harap
Yaitu : Kitab ke tiga
daru “rub’u”/
perempat bagian
yang
menyelamatkan
Dari “kitab Ihya –
Ulumuddin”
Bismilaahirrohmaanirrohiim
Segala puji bagi Allah
yang diharapkan
kasih sayang dan
pahalaNya. Yang
ditakutkan kebencian
dan siksaanNya.
Yang membangun
hati wali-walinya
dengan keenakan
harapannya,
sehingga IA
membawa mereka
dengan kasih sayang
nikmat-nikmatNya
kepada ketetapan di
dalam HadratNya..
dan berpaling dari
negeri
percobaannNya ,
yang menjadi
tempat ketetapan
musuh-musuhNya.
Dan IA memukul
dengan cemeti
pentakutanNya dan
hardikNya yang
keras, akan muka
orang-orang yang
berpaling dari
HadratNya. Ke negeri
pahalanya dan
kemuliaanNya. Dan
DIA mencegah
mereka kepada
mendatangi yang
dicacikanNya dan
menghampiri
kepada kemarahan
dan kutukanNya.
Karena tarikan segala
jenis makhluk
dengan rantai-rantai
paksaan dan
kekerasan . dan pada
kali yang lain dengan
kekang-kekang
kelembutan dan
kasih sayang
kepadaa surgaNya.
Rahmat kepada
Muhammad
penghulu Nabi-
NabiNya dan sebaik-
baik makhlukNya.
Dan kepada
keluarga, para
sahabat, dan anak
cucunya.
Adapun kemudian,
maka sesungguhnya
harap / raja’ dan
takut / al-khouf
adalah dau sayap ,
yang dengan dua
sayap itu , orang-
orang muqarrabin
terbang ke setiap
tempat yang terpuji.
Dan merupakan dua
pisau , yang dengan
pisau itu orang
berjalan ke akhirat,
memotong setiap
tebingyang sukar
didaki. Maka tiada
yang membawa
kedekatan dengan
Tuhan Yang Maha
Pemurah dan
kepada angin surga ,
serta keadaannya itu
jauh tepi-tepinya,
berat beban-
bebannya, terkeliling
dengan yang tiada
disukai oleh hati dan
dirindui oleh
anggota-anggota
badan dan sendi-
sendi tubuh, selain
oleh kekang-kekang
harapan . dan tiada
yang menahan dari
neraka jahanam dan
azab yang pedih ,
serta keadaannya
terkeliling dengan
keinginan-kinginan
yang lemah lembut
dan kesenangan-
kesenangan yang
menakjubkan , selain
oleh cemeti-cemeti
pentakutan dan
kekuasaan-
kekuasaan yang
mengeraskan.
Jadi, maka tidak
boleh tidak daripada
penjelasan hakikat
harap dan takut dan
keutamaan
keduanya. Dan jalan
esampaian kepada
mengumpulkan
diantara keduanya,
serta berlawanan
dan pertentangan
diantara keduanya.
Dan kami akan
mengumpulkan
penyebutan
keduanya dalam
suatu kitab yang
melengkapi atas dua
bagian. Bagian
pertama tentang
harap dan bagian ke
dua tentang takut.
Adapun bagian
pertama : maka
melengkapi atas :
penjelasan hakekat
harap, penjelasan
keutamaan harap,
penjelasan obat
harap, dan jalan
yang menarik harap
dengan jalan itu.
Penjelasan :
Hakikat harap
Ketahuilah kiranya
bahwa harap itu
adalah termasuk
dalam jumlah
pangkat orang salik
(orang yang berjalan
kepada Allah) dan hal
keadaan orang-
orang yang
menuntut jalan
Allah.
Sesungguhnya sifat
itu dinamakan :
tingkat (maqam)
ialah :apabila ia tetap
dan berketapan di
situ. Dan
sesungguhnya
dinamakan hal
keadaan apabila ia itu
mendatang, yang
segera hilang. Dan
sebagaimana kuning
itu terbagi kepada:
yang tetap, seperti:
kuning emas. Dan
kepada yang segera
hilang seperti: kuning
pucat / ketakutan.
Dan kepada apa
yang diantara
keduanya, seperti
kuning orang yang
sakit.
Maka sepereti ini
pula , sifat-sifat hati
itu terbagi kepada:
bagian-bagian ini.
Maka yang tidak
tetap dinamakan: hal
keadaan, karena dia
itu berubah dengan
cepat. Dan ini
berlaku kepada
setiap sifat, dari pada
sifat-sifat hati.
Maksud kami
sekarang ialah:
hakikat harap. Maka
juga harap akan
sempurna dari: hal-
keadaan, ilmu dan
amal. Maka ilmu itu
adalah sebab yang
membuahkan hal-
keadaan. Dan hal-
keadaaan itu yang
menghendaki amal
perbuatan. Dan
harap itu adalah
suatu nama dari
jumlah yang tiga
tadi.
Penjelasannya ialah:
bahwa setiap apa
yang menemukan
anda dari: yang tidak
disukai dan yang
disukai maka terbagi
kepada: wujudnya
pada hal-keadaan
yang sekarang,
kepada wujudnya
pada masa lalu, dan
kepada yang
ditunggu pada masa
yang akan datang.
Apabila terguris di
hati anda, suatu
wujud di masa lalu
niscaya dinamakan
ingatan dan sebutan.
Dan jikalau yang
terguris di hati anda
itu erdapat sekarang,
niscaya dinamakan
perasaan, rasa, dan
tahu. Dan
sesungguhnya
dinamakan perasaan
karena
sesungguhnya dia
itu suatu keadaan
yang anda dapati
dalam jiwa anda.
Dan jikalau terguris
dalam ahti anda akan
adanya sesuatu pada
masa mendatang
dan mengeraskan
yang demikian itu
pada hati anda,
maka dinamakan
tungguan dan
kemungkinan terjadi.
Maka jikalau yang
ditunggu itu sesuatu
yang tidak disukai
maka timbulah di
dalam hati suatu
kepedihan yang
dinamakan takut dan
kasihan. Dan kalau
yang ditunggu tu
yang disukai, yang
diperoleh dari
tungguannya ,
kesangkutan hati
kepadanya
dankegurisan
adanya di hati,
kelezatan dalam hati
dan kesenangan ,
maka niscaya
kesenangan itu
sinamakan
harap.maka harap
ialah kesenangan hati
untuk menunggu
apa yang disukainya.
Akan tetapi yang
disukai dan yang
diharapkan itu tidak
boleh tidak bahwa
dia harus ada sebab
musabab baginya.
Kalau tungguan itu
adalah hasil
kebanyakan sebab-
sebabnya, maka
nama harap
padanya itu benar.
Dan kalau tungguan
itu rusak atau kacau
balau sebab-
sebabnya, maka
nama tipuan dan
dungu lebih tepat
baginya, dari pada
nama harap. Dan
jikalau sbab-sebab
itu diketahui adanya,
dan tidak diketahui
adanya , maka nama
angan-angan lebiih
tepat atas
tungguannya. Dan
pada stiap keadaan
nama harap dan
takut tidaklah dipakai
secara mutlak, selain
atas apa yang
diragukan
keberadaannya.
Adapun bagi sesuatu
yang diyakini, maka
kedua istilah ini
tidaklah dipakai. Oleh
karena itu tidaklah
benrt dikatakan ‘aku
harap matajari terbit
pada waktu dia
terbit. Dan aku taku
atas terbenamnya
matahari pada waktu
terbenam. Karena
hal yang demikian
sudah diyakini.
Benar, jika sikatakan
‘aku mengharap
akan turunnya hujan
dan aku takut akan
terputusnya hujan
tersebut.
Sesungguhnya telah
diketahui oleh orang-
orang yang memiliki
hati nurani bahwa
dunia adalah kebun
akhirat. Dan hati itu
seperti bumi,
sedangkan iman itu
seperti bibittanaman
di dalamnya. Dan
ta’at itu
diumpamakan
sebagai usaha
pengolahan tanah
dan
membersihkannya,
serta diumpamakan
sebagai penggalian
sungai-sungai dan
emngalirkan air di
dalamnya. Dan hati
yang membebi buta
dengan dunia, dan
karam di dalamnya,
adalah laksana tanah
yang tidak baik yang
tidak akan dapat
tumbuh bibit
tanaman di atasnya.
Dan hari kiyamat itu
adalah hari
memanen, dimana
seseorang tidak akan
memanen selain apa
yang telah ia tanam.
Dan tiadalah
tetumbuhan yang di
tanam untuk akhirat
selain dari bibiat
iman. Dam akan
sedikitlah manfaat
iman itu jika disertai
kekejian hati dan
keburukan akhlak.
Sebagaimana bibit
tidak akan tumbuh
pada tanah yang
tidak baik maka
seyogyanya
dikiaskan harapan
seorang hamba akan
ampunan dengan
harapan orang yang
mempunyai
tanaman. Maka
setiap oarng yang
mencari tanah yang
baik, dan ditaburkan
di atasnya bibit yang
baik, yang tidak
busuk dan tidak kena
bubuk, kemudian
dirawatnya dengan
memenuhi segala
apa yang diperlukan
yaitu menyirami air
pada waktu-
waktunya kemudian
membersihkan duri-
durinya daserta dari
rumput dan segala
sesuatu yang
menghalangi
tumbuhnya bibit dan
merusakkannya,
kemudian ia duduk
menunggu karunia
dari Allah Ta’ala,
menolak segala yang
membinasakan dan
bahaya-bahaya yang
merusak ,
sehinggalah
sempurnalah
pertumbuhan
tanaman dan sampai
kesudahannya,
maka tungguan
yang demikian itu
dinamakan harap.
Dan jikalau
ditaburkan bibit di
atas tanah yang tidak
baik yang tinggi,
yang tidak disirami
air kepadanya dan
tidak diuashakan
sekali-kali mengurus
bibit itu kemudian
menunggu
panennya, maka
dinamakan tunggun
yang demikian itu
adalah suatu
kebodohan dan
ketertipuan.
Bukannya harap.
Dan kalau sitaburkan
bibit pada tanah
yang baik, akan
tetapi tidak ada air
hujan dan
menunggu
datangnya hujan
dimana hujan itu
tidak biasa terjadi
dan juga bukan
tidak, maka
tungguan itu
dinamakan angan-
angan, bukannya
harap.
Jadi Istilah harap
dibenarkan kepada
menunggu yang
disukai yang
disediakan semua
sebab-sebabnya
yang termasuk di
dalam usaha hamba.
Dam tidak tinggal
selain apa yang tidak
masuk di dalam
usaha hamba itu.
Dan itulah karunia
Allah Ta’ala , dengan
menyingkirkan
segala yang
memotong dan
yang merusak.
Jadi, seorang hamba
yang telah
menaburkan bibit
iman dan
menyiramnya
dengan air ta’at dan
membersihkan hati
dari duri buruknya
akhlak dan kemudian
menungguh karunia
Allah Ta’ala akan
penetapannya di atas
yang demikian
sampai mati dan
bagus
kesudahannya /
khusnul khatimah
yang membawa
kepada ampunan
niscaya
tungguannya itu
adalah harapan yang
hakiki, ayng terpuji
yang menggerakkan
pada ketekinan dan
tegak berdiri
menurut yang
dikehendaki oleh
sebab-sebab iman,
pada
penyempurnaan
sebab-sebab
ampunan sampai
kepada mati.
Dan jikalau terputus
dari bibit iman, dan
terputus dari
penyiraman air
keta’atan atau
membiarkan hati
terisi dengan akhlak-
akhlak yang hina dan
ia berkecimpung
mencari kesenangan
duniawi, kemudian
ia menunggu
ampunan, maka
tungguannya itu
adalah kebodohan
dan ketertipuan. Nabi
SAW bersabda Al
Achmaqu man
atba’a nafsahu
hawaaha
watamanna
‘ alaLlahil jannah
yang artinya, “Orang
yang bodoh adalah
orang yang
mengikutkan dirinya
akan hawa nafsunya
dan ia berangan –
angan kepada Allah
untuk mendapatkan
surga”.
(diriwayatkan
Ahmad, At Tirmidzi,
Ibnu Abiddunya dan
Al-Hakim dari
Syaddad bin Aus).
Dan Allah Ta’ala
berfirman fakholafa
mimba’dihi kholfun
adhoo’ushholaata
wattaba’uussyahawaata
fasaufa yalqouna
ghoyya yang
artinya –maka
digantikan mereka
oleh suatu angkatan,
yang meninggalkan
shalat, dan
memperturutkan
keinginan nafsu ,
sebab itu mereka
akan menemui
kebinasaan.
Dan Allah Ta’ala juga
berfirman faholafa
mimba’dihi kholfun
warotsuul kitaaba
ya”khudzuuna
‘arodho hadzal
adnaa
wayaquuluuna
sayughfaru lana
yang artinya-
sesudah itu datang
angkatan yang baru
menggantikan
mereka, mereka
mempusakai Kitab,
mengambil harta
benda dunia dengan
cara yang tidak halal
sedang kata mereka
kami akan diampuni.
( Al-A’raf 169)
Maka
sesungguhnya Allah
telah mencela orang
yang mempunyai
kebun apabila
mereka
memasukinya dan
berkata, “Aku tidak
akan mengira bahwa
kebun ini akan
binasa dan aku juga
tidak mengira bahwa
hari kiamat akan
datang maka apabila
kami dikembalikan
kepada Tuhan kami
niscaya aku akan
mendapatkan
tempat kembali yang
lebih baik dari ini.
Dengan demikian
seorang hamba
yang bersungguh-
sungguh
melaksanakan tho’at
dan menjauhi
ma’siyat maka akan
benarlah jiak ia
menantikan
anugerah dari
Tuhannya berupa
kesempurnaan
ni ’mat. Dan tiadalah
kesempurnaan
ni ’mat itu wujud
kecuali masuk di
dalam surga.
Adapun orang yang
berma’siyat
manakala ia
bertaubat dan
mengerjakan
kembali apa yang
telah di sia-siakannya
– dari amal saleh-
maka benarlah
apabila ia
menantikan
ampunan dari Allah.
Adapun hakikat
penerimaan taubat
adalah apabila ia
telah membenci
ma’siyat yang
membencikannya
akan kejahatan serta
menyenangkannya
akan kebaikan, dan ia
mencela serta
mencaci dirinya dan
menyenagi taubat
serta rindu
kepadanya maka
benarlah apa yang ia
harapkan dari Allah
berupa petunjuk
kepada taubat.
Karena kebenciannya
akan ma’siyat dan
keinginannya kepada
taubat itu berlaku
sebagai berlakunya
sebab-sebab yang
terkadang
membawa kepada
diterimanya taubat.
Dan sesungguhnya
harap itu adalah
sesudah kuatsebab-
sebabnya. Dan
karena itu Allah
Ta’ala berfirma
Innalladziina
aamanuu
walladziina
haajaruu
wajaahaduu fii
sabiililLaahi ulaa-
ika yarjuuna
rohmatalLaahi
yang
artinya ,”seungguhnya
orang-orang yang
beriman dan
berhijrah dan
bekerja keras /jihad
di jalan Allah, maka
mereka itulah yang
berhak
emngharapkan
rahmat Allah”.(Al-
Baqarah – 218).
Artinya mere itulah
yang berhak
mendapatkan
rahmat dari Allah
dan tidaklah yang
dikehendaki peng-
khususan harap,
karena selain mereka
terkadang juga
mengharap, akan
tetapi dikhususkan
kepada mereka akan
berhaknya harap.
Adapun orang yang
menjerumuskan
dirinya kepada apa
yang tdak disukai
Allah Ta’ala dan tidak
juga mencela diri
sendiri dan tidak
berkeinginan taubat
serta kembali kepad
Allah, maka
harapannya akan
ampunan itu adalah
kebodohan, seperti
harapannya orang
yang menebarkan
benih pada tanah
yang tandus dan
bertekad tidak akan
mengurusnya
dengan penyiraman
maupun
pembersihan.
Yahya bin Muadz
berkata, “ketertipuan
yang paling besar
menurutku adalah
berkepanjangan
berbuat dosa
dengan
mengharapkan
ampunan, tanpa
diserttai dengan
penyesalan.
Mengharapkan
kedekatan dengan
Allah tanpa
melakukan tha’at
dan ,menantikan
tanaman surga
dengan bibit neraka
dan mencari rumah
tempat orang ta’at
denagn perbuatan
ma’siyat, dan
mengharapkan
pahala tanpa mau
beramal, dan
bercita-cita kepada
Allah Ta’ala disertai
keteledoran.
Sya’ir
Engkau
mengharapkan
keselamatan
Akan tetapi engkau
tidak menempuh
jalannya
Sesungguhnya
perahu
Tidak akan
mengarungi daratan
Maka apabila engjau
telah mengetahui
hakikat harap dan
tempat
sangkaannya, maka
anda telah
mengetahui bahwa
harap itu adalah
suatu hal/keadaan
yang dihasilkan oleh
ilmu dengan
berlakunya benyak
sebab. Dan keadaan
yang demikian ini
akan menghasilkan
kesungguhan untuk
menegakkan sisa-
sisa sebab tersebut
menurut
kemungkinan.
Sesungguhnya
orang yang
membaguskan
bibitnya,
menyuburkan
tanahnya,
mencukupi airnya,
benar harapannya,
meka senantiasalah
ia di bawa oleh
benarnya harapan
kepada mencari
tanah,
mengusahakannya
dan memmbuang
setiap rumput yang
tumbuh padanya.
Maka tidaklah luntur
sekali-kali usahanya
sampai kepada
waktu memanen. Da
ini dikarenakan
bahwa harap itu
beralwanan dengan
putus asa. Dan
putus asa itu
menghalangi dari
berusaha. Maka
barang siapa yang
mengetahui bahwa
tanah itu tidak baik,
air itu sangat sediikit,
dan bibit itu tidak
mau tumbuh
niscaya akan ia
tinggalkan dalam
mencari tanah dan
ebrpayah-payah
mengusahakannya.
Harap itu terpuji
karena ia
menggerakkan
kepada amal. Dan
putus asa itu tercela
dan iu berlawanan
dengan harap karena
putus asa itu
memalingkan /
menghalangi dari
amal. Sedangkan
takut itu itu tidaklah
berlawanan dengan
harap. Akan tetapi
kawannya,
sebagaimana akan
ada penjelasannya.
Bahkan takut itu
penggerak tersendiri,
dengan jalan
ketakutan
sebagaimana harap
itu penggerak
denagn jalan
kegemaran-
menyenangi
sesuatu.
Jadi keadaan harap
itu menyebabkan
panjangnya
kesungguhan/
mujahadah dengan
amal perbuatan dan
rajin kepada ta’at,
bagaimanapun
berunah-ubahnya
ahwal/keadaan.
Dan diantara kesan-
kesan dari harap itu
adalah enaknya terus
menerus
menghadapkan hati
kepada Allah,
merasa ni’mat dalam
bermunajah dengan
Dia, dan berlemah
lembut dalam
bermanis wajah
terhadapNya.
Sesunggguhnya
segalah keadaan
yang demikian ini
sudah pasti adanya.
Dan jelas pula
keadaan yang
demikian ini bagi
orang yang
mengharapkan
seseorang dari raja-
raja ataupun
seseorang dari
orang biasa. Maka
bagaimana lagi tidak
jelas yang demikian
ini pada hak Allah
Ta’ala. Maka jikalau
tidak jelas, maka
hendaklah ia
mengambil dalil
yang demikian atas
tidak diperolehnya
tingkat harap
(maqam ar raja’).
Dan turun dalam
lembah tertipu dan
angan-angan.
Maka demikianlah
penjelasan dalam hal
harap , dan
mengapa ia
diahsilkan oleh ilmu
dan mengapa ia
menerima hasil dari
amal. Dan
menunjukkannya
atas dihasilkannya
amal-amal ini , oleh
hadist yang
diriwayatkan Zaidul
Khalil . karena ia
berkata kepada
RasuluLlah SAW,
“Aku datang kepada
Engkau dari alamat
atas Allah pada
orang yang
menghendakinya,
dan alamatNya pada
orang yang tidak
menghendakinya”.
Maka Nabi SAW
mwnjawab,
“ Bagaimana keadaan
engkau ?”. Zaidul
Khalil menjawab,
“Keadaanku adalah
mencintai kebajikan
dan orang yang
mengerjakan
kebajikan, apabila
aku sanggup
mengerjakan
sesuatu niscaya aku
bersegera
mengerjakannya.
Dan apabila luput
bagiku akan sesuatu
tersebut, niscaya
akan
menggundahkan
hatiku dan aku rindu
kepadanya”.
Maka Nabi SAW
bersabda, “Itulah
alamat Allah pada
siapa yang
dikehendakiNya,
jikalauIa
menghendaki
engkau bagi yang
lain niscaya
disiapkanNya
engkau yang lain
tersebut
kemudian Ia tiada
menghiraukan
pada lembah-
lembahnya yang
mana engkau
binasa”.
Maka sesungguhnya
Nabi SAW telah
menyebutkan
alamat/tanda orang
yang dimaksudkan
dengan kebajikan
dari bukan alamat-
alamat ini maka ia
tertipu.
Penjelasan
keutamaan harap/
raja’ dan
menggalakkan pada
harap
Ketahuilah kiranya
bahwa amal
berdasarkan harap
itu lebih tinggi dari
pada amal
berdasarkan atas
takut. Karena hamba
yang paling dekat
terhadap Allah Ta’ala
itu adalah yang
paling mencintaiNya.
Dan cinta itu
diperkuat dengan
adanya harap.
Ambilah ibarat yang
demikian itu dengan
dua orang raja. Yang
seorang dilayani
karena takut akan
siksaannya, dan
yang seorang lagi
dilayani dengan
mengharap akan
balasannya. Dan
karean itulah ada
pada harap dan
berbaik sangka,
beberapa
penggalakan lebih-
lebih pada waktu
mati. Allah Ta’ala
berfirman yang
artinya, “Janganlah
kamu putus
harapan dari
rahmat Allah”.
S.Azzumar 53.
Ia mengharamkan
keadaan putus asa.
Juga pada cerita-
cerita Nabi Ya’qub
as. Bahwa Allah
Ta’ala menurunkan
wahyu kepadanya,
“Tahukah engkau
mengapa Aku
ceraikan engkau
dari Yusuf ?,
karena engkau
mengatakan ‘aku
takut bahwa Yusuf
itu akan dimakan
serigala sedang
kamu lengah
daripadanya’.
Mengapa engkau
takut kepada
serigala dan tidak
mengharap
kepadaKu ?. dan
mengapa engkau
memandang
kepada
kelemahan
saudara
saudaranya dan
engkau tidak
memandang
kepada
penjagaanKu
baginya ?”.
Nabi SAW
bersabda, “laa
yamuutunna
ahadukum illa
wahuwa
yuhsinudhhonna
biLlaahi Ta’aalaa”.
Ayng artinya
janganlah kamu
sekalian mati
melainkan ia
berbaik sangka
kepada Allah
Ta’aalaa.
yaquuluLloohu ‘Azza
Wa Jalla “Anna ‘inda
Dhonni ‘abdy By
falyadhunna by maa
Syaa’a yang artinya
Aku tergantung
persangkaan
hambaKu
terhadapKu, maka
berperasangkalah
kepadaKu
sekehendaknya.
Nabi SAW masuk
ke tempat seorang
laki-laki yang sedang
mengalami sakit
keras. Lalu beliau
bertanya, “apakah
yang engkau
dapati pada
dirimu ?” . orang itu
menjawab,
“ Akubdapati diriku
takut akan dosa-
dosaku, dan
mengharap akan
rahmat Tuhanku”.
Maka Nabi SAW
bersabda, “Maj
Tama’aa fii qolbi
‘abdi fii hadzal
maothini illa
a’thaahuLloohu maa
rojaa wa ammanahu
mimmaa yakhoofu
yang artinya
tidaklah
berkumpul
keduanya (harap
dan takut) pada
hati seorang
hamba melainkan
ia diberikan oleh
Allah akan apa
yang ia harapkan
dan ia diamankan
oleh Allah akan
apa yang ia takuti.
Ali ra. Berkata
kepada seorang
lelaki, yang terbawa
rasa ketakutan dan
putus asa karena
banyak dosanya,
“Hai orang ini,
keputus asaanmu
dari rahmat Allah itu
lebih besar dari
doasa-dosamu”.
Sufyan berkata,
“barang siapa
berdosa dengan
suatu dosa, maka ia
tahu bahwa Allah
Ta’ala mentakdirkan
dosa itu untuk
dirinya dan ia
mengharap akan
ampunanNya,
niscaya Allah
mengampuni
dosanya ”.
Dan Sufyan
menyambung lagi,
“Karena Allah Azza
Wajalla nerobah
suatu kaum, Ia
berfirman-
Wadzaalikum
dhonnukumulladzii
dhonantum
birobbikum
ardaakum- artinya,
itulah dugaanmu
(yang keliru)
terhadap Tuhanmu.
(dugaan itulah) yang
membawa kamu
kepada kecelakaan.
QS. Al-Fath 12.
Dan Allah Ta’ala
berfirman,
“ wadhonantum
dhonnassau-i
wakuntuk
qoumam buuro”
yang artinya dan
kamu mempunyai
persangkaan yang
tidak baik dan kamu
adalah kaum yang
binasa.
Dan Nabi SAW
bersabda yang
artinya, “
sesungguhnya Allah
Ta’ala berfirman
kepada hambanya
kelak hari kiyamat-
apa yang
menhalangi kamu
ketika engkau
melihat sesuatu
yang munkar
bahwa engkau
menentangnya ?
Maka apabila ia
telah diajarkan
oleh Allah akan
hujjah/
jawabannya
niscaya ia akan
menjawab, ‘Wahai
Tuhanku,
sesungguhnya aku
mengharapkan
akan rahmatmu
sedang aku takut
kepada manusia”’.
Nabi SAW bersabda,
“maka Allah Ta’ala
berfirman, ‘Telah
Aku ampunkan
bagi enngkau”’.
Tersebut pada
hadits shahih, yang
artinya, “bahwa ada
seorang lelaki yang
melaksanakan jual
beli dengan jalan
hutang. Maka ia
bersikap lapang dada
terhadap orang
kaya, dan
melampaui batas
terhadap orang
miskin. Maka ia
menjumpai Allah
dan tiada memiliki
amal kebajikan sama
sekali. Maka Ia-Allah
berfirman, siapa
yang lebih berhak
dengan yang
demikian daripada
Kami ?”. maka
Allahpun
memaafkannya
karena baik
sangkaanya, dan
harapannya bahwa
ia dimaafkan
meskipun
ketaatannya
merosot.
Allah Ta’ala
berfirman,
“ Innalladziina
yatluunal
kitaabaLloohi wa
aqoomushsholaata
wa anfaquu
mimmaa
rozaqnaahum
sirron
wa ’alaaniyatan
yarjuuna
tijaarotan lan
tabuuroo” (QS.
Fathir, 29.). Yang
artinya,”sesungguhnya
orang-orang yang
membaca Kitab Allah
dan mendirikan
shalat dan
menafkahkan
sebagian rizki yang
Aku berikan kepada
mereka baik secara
tersembunyi
maupun terang-
terangan mereka itu
mengharapkan
perniagaan yang
tidak pernah akan
rugi”.
Ketika Nabi SAW
bersabda yang
artinya, “seandainya
kamu sekalian
mengetahui apa-apa
yang Aku ketahui
niscaya akan
menyedikitkan
tertawa dan
memperbanyak
menangis. Dan
kamu aakn keluar
menuju tempat
yang tinggi dan
kamu akan
memukul-mukul
dadamu dan akan
merendahkan diri di
hadapan Tuhanmu”.
Maka turunlah Jibril
as seraya berkata,
“sesungguhnya
Tuhanmu
mengatakan
kepadamu ,”Mengapakah
engkau
mendatangkan
keputus asaan
kepada hamba-
hambaKu?” Lalu
Nabi SAWkeluar
menemui mereka
dan memberikan
ahrapan kepada
mereka”.
Tersebut dalam
Hadits bahwa Allah
Ta’ala menurunkan
wahyu kepada Nabi
Dawud as.
“cintailah Aku !
cintailah orang-
orang yang
mencintai Aku !
dan buatlah Aku
mnecintai
makhlukKu !
Lalu Nabi Dawud as.
Bertanya, “Wahai
Tuhanku !
bagaimanakah aku
membuat Engkau
mencintai
makhlukMu ?”
Allah Ta’ala
berfirman,
“ sebutkanlah Aku
dengan baik dn
elok ! sebutkanlah
nikmat-nikmatKu
dan perbuatan
baikKu !
Peringatkanlah
mereka akan yang
demikian ! Maka
sesungguhnya
mereka tiada
mengenal
daripadaKu selain
yang elok”.
Dimimpikan Abban
bin Abi Ayyasy
sesudah ia
meninggal. Dan ia
semasa hidupnya
banyak
menyebutkan pintu-
pintu harapan. Ia
mengatakan kepada
orang yang
bermimpi itu “Allah
Ta’ala menyuruh aku
berdiri di
hadapanNya, maka
Ia berfirman
‘Apakah yang
membawa engkau
kepada yang
demikian ini ?’
Maka aku
menjawab, “Aku
bermaksud
mencintakan Engkau
kepada makhluk
Engkau”.
Maka Allah
berfirman, “Telah
Aku ampunkan
dosamu”.
Dimimpikan Yahya
bin Ak-Tsam
sesudah ia
meninggal, lalu ia
ditanya, “Apa yang
telah Allah perbuat
terhadapmu ?” Maka
Yahya bin Ak-Tsam
menjawab, ‘Allah
menyuruhku berdiri
di hadapanNya dan
Dia berfirman, “Hai
Syaikh jahat !,
engkau telah berbuat
demikian, engkau
telah berbuat
demikian !”
Yahya bin Ak-Tsam
berkata, “Maka
menakutkan aku,
apa yang diketahui
oleh Allah”.
Kemudian aku
berkata, “Wahai
Tuhanku, tidaklah
begitu yang aku
perkatakan perihal
Engkau”.
Maka Allah
berfirman, “Lalu apa
yang engkau
katakan perihal
Aku ?”
Lalu aku berkata,
“Diberitakan
kepadaku oleh
Abdurrazaq, dari
Ma’mar, dari Az-
Zuhri, dari Anas, dan
adri Nabi Engkau
SAW, dari Jibril as,
bahwa Engkau
berfirman,
“ Sesungguhnya
Aku tergantung
persangkaan
hambaKu
kepadaKu, maka
hendaklah ia
menyangka
kepadaKu apa
yang ia
kehendaki” dan
aku menyangka
Engkau, bahwa
Engkau tiada akan
mengazabku’.
Maka Allah Azza
Wajalla berfirman,
“Benar Jibril, benar
NabiKu, benar
Anas, benar Az-
Zuhri, benar
Ma’mar, dan benar
engkau”.
Yahya bin Ak-Tsam
berkata, “lalu aku
berpakaian dengan
pakaian surga, dan
berjalan di
hadapanku bidadari-
bidadari surga maka
aku berkata, ‘wahai
alangkah
gembiranya’”.
Tersebut pada
hadits, bahwa
seorang dari
golongan bani Israil
(yahudi)
mendatangkan
keputus asaan
kepada manusia dan
bersikap keras
kepada manusia.
Maka Allah Ta’ala
akan berfirman
kepadanya pada hari
kiyamat. Ia berkata,
“Pada hari ini Aku
putus asakan kamu
dari rahmatKu,
sebagaimana engkau
mendatangkan
keputus-asaan
kepada hamba-
hambaKu”.
Nabi SAW
bersabda, “Seorang
laki-laki akan masuk
neraka. Maka ia akan
bertempat di neraka
itu selama seribu
tahun. Ia akan
memanggil, ‘Yaa
Hannaan, Yaa
Mannaan’ (Wahai
yang pemberi belas
kasih, wahai yang
memberi ni’mat)’.
Maka Allah Ta’ala
berfirman kepada
Jibril as. “Pergilah
dan bawalah
hambaKu itu
kepadaKu”.
Nabi SAW
meneruskan
sabdanya, “Maka
hamba itu dibawa
kepada Allah. Lalu
disuruh berdiri di
hadapanNya. Maka
Allah Ta’ala
berfirman,
‘ Bagaimana engkau
mendapati tempat
engkau ?’
Lelaki itu menjawab,
‘Tempat yang
buruk’.
Nabi SAW
meneruskan
sabdanya, “Maka
Allah Ta’ala
berfirman,
‘ Kembalikan orang
ini ke tempatnya
semula !’
Nabi SAW
meneruskan
sabdanya, “Maka
laki-laki itu berjalan
dan berpaling ke
belakang. Maka Allah
Ta’ala berfirman, ‘Ke
mana engkau
berpaling ?’
Laki-laki itu
menjawab,
‘ sesungguhnya aku
berharap bahwa
Engkau tidak
mengembalikan aku
kepadanya setelah
Engkau keluarkan
aku daripadanya’.
Maka Allah Ta’ala
berfirman, ‘Pergilah
dengan leki-laki ini ke
surga ‘”.
Maka ini
menunjukkan
bahwa harapa
Yahudi tersebut
menjadi sebab
keselamatannya.
Kita mohon kepada
Allah akan bagusnya
taufik dengan kasih
sayang dan
kemurahanNya.

No comments:

Post a Comment