24 May 2010

IHYA' ULUMIDDIN JILID
7-8 PENJELASAN: arti su-
ul-khatimah
Kalau anda bertanya: bahwa
kebanyakan mereka itu, takutnya
adalah kepada su-ul-khatimah, maka
apa arti su-ul-khatimah itu?
Ketahuilah, bahwa su-ul-khatimah
itu ada dua tingkat. Salah satu
daripadanya lebih besar dari yang
lain.
Adapun tingkat yang besar, yang
mendahsyatkan, bahwa mengerasi
atas hati, ketika sakaratul-maut dan
lahir ke-huru-hara-annya,
adakalanya oleh keraguan dan
adakalanya oleh keingkaran. Lalu roh
(nyawa) diambil dalam keadaan
kerasnya keingkaran atau keraguan.
Maka ikatan keingkaran yang
mengerasi atas hati itu, menjadi
dinding (hijab) di antaranya dan
Allah Ta'ala untuk selama-Iamanya.
Dan yang demikian menghendaki
akan kejauhan yang terus-menerus
dan siksaan yang berkekalan.
Yang kedua, yaitu: kurang dari yang
pertama tadi, bahwa mengerasi atas
batinya ketika mati, oleh kecintaan
kepada sesuatu dari hal dunia dan
keinginan dari keinginan-keinginan
dunia. Maka membentuk yang
demikian itu dalam batinya dan
menenggelamkannya. Sehingga,
tidak ada lagi dalam keadaan itu,
tempat yang lapang untuk yang lain.
Maka berkebetulan pengambilan
nyawanya dalam keadaan yang
demikian. Maka adalah
ketenggelaman batinya dengan
yang demikian itu, membalikkan
kepalanya ke dunia. Dan
memalingkan mukanya ke dunia itu.
Manakala muka telah berpaling dari
Allah Ta'ala, niscaya terjadilah hijab.
Dan manakala telah terjadi hijab,
niscaya turunlah azab. Karena
neraka Allah yang menyala-nyala
itu, tidak mengambil, selain orang-
orang yang terhijab daripada Allah.
Adapun orang mu'min yang
sejahtera batinya dari kecintaan
kepada dunia, yang terarah cita-
citanya kepada Allah Ta'ala, maka
neraka mengatakan kepadanya:
"Lalulah, hai mu'min! Sinarmu telah
memadamkan api-baraku".
Manakala berkebetulan pengambilan
nyawa dalam keadaan kerasnya
kecintaan kepada dunia, maka
keadaan amat berbahaya. Karena
manusia itu mati, menurut apa yang
ia hidup. Dan tidak mungkin
diusahakan sifat yang lain bagi hati,
sesudah mati, yang berlawanan
dengan sifat yang mengerasi atas
dirinya. Karena tidak berlaku pada
hati, selain amal-perbuatan anggota
badan. Dan anggota badan itu telah
batil dengan mati. Maka batillah
segala amal perbuatan. Maka tak ada
harapan pada amal perbuatan lagi.
Dan tak ada harapan untuk kembali
ke dunia, untuk memperoleh apa
yang hilang. Dan ketika itu, besarlah
penyesalan. Hanya, pokok iman dan
kecintaan kepada Allah Ta'ala, apabila
telah melekat pada hati, maka itu
masa yang panjang. Dan yang
demikian, bertambah teguh, dengan
amal-amal shalih. Maka itu
menghapuskan dari hati, akan
keadaan tersebut, yang datang bagi
hati ketika mati. Kalau ada kekuatan
imannya kepada batas seberat biji
sawi, niscaya iman itu
mengeluarkannya dari neraka, pada
waktu yang sangat dekat. Dan kalau
kurang dari yang demikian, niscaya
lamalah berhentinya dalam neraka.
Dan kalau tak ada imannya, selain
seberat sebutir biji-bijian, maka tak
dapat tidak, iman itu akan
mengeluarkannya dari neraka,
walaupun sesudah ribuan tahun.
Kalau anda mengatakan: "Bahwa apa
yang telah aku sebutkan itu meng-
hendaki, bahwa bersegeralah neraka
kepadanya, sesudah matinya. Maka
apa artinya dikemudiankan kepada
hari kiamat dan ditangguhkan
sepanjang masa itu?".
Ketahuilah kiranya, bahwa setiap
orang yang mengingkari akan azab
kubur, maka orang itu pembuat
bid'ah dan ia terdinding dari nur
Allah Ta'ala, dari nur AI-Qur-an dan
nur iman. Bahkan yang shahlih dari
orang-orang yang mempunyai
mata hati, ialah apa yang shahih
pada hadits-hadits. Yaitu: bahwa
kubur itu, adakalanya satu lobang
dari lobang-lobang neraka atau
suatu taman dari taman-taman
syurga. (Dirawikan At-Tirmidzi dari
Abi Sa'id katanya: hadits gharib.).
Dan kadang-kadang dibukakan
kepada kubur yang diazabkan, tujuh
puluh pintu dari neraka jahannam,
sebagaimana tersebut pada hadits-
hadits. Maka ketika nyawanya
bereerai dari si mati, lalu turun
padanya bala-bencana, kalau ia
celaka dengan su-ul-khatimah.
Hanya bermacam-macam jenis
azab itu, densan bermacam-macam
waktu. Maka adalah pertanyaan
malaikat Munkar dan Nakir ketika
diletakkan orang yang mati itu
dalam kubur (Telah diterangkan
dahulu pada "Kaedah-kaedah
I'tikad") dan penyiksaan
sesudahnya. (Telah diterangkan
dahulu.)
Kemudian perdebatan pada
hitungan amal (hisab amal). (Telah
diterangkan dahulu). Dan tersiarnya
di hadapan orang banyak, yang
menyaksikan di hari kiamat.
Sesudah itu, bahaya pada titian
shiratulmustaqim. Yaitu: malaikat-
malaikat penjaga neraka (az-
zabaniyah). Sampai kepada
penghabisan apa yang tersebut
pada hadits-hadits. Maka
senantiasalah orang yang celaka itu
bulak-balik dalam semua
keadaannya, di antara berbagai
macam azab-siksaan. Dan
diazabkan dalam jumlah hal-
keadaan itu, selain orang yang
dilindungi oleh Allah dengan
rahmatNYA.
Jangan anda menyangka, bahwa
tempat iman itu dimakan oleh tanah.
Akan tetapi, tanah memakan semua
anggota badan dan dihancurkannya,
sampai datang waktunya. Maka
berkumpullah babagian-babagian
badan yang telah cerai-berai. Dan
dikembalikan nyawa kepadanya, di
mana nyawa itu adalah tempatnya
iman. Dan nyawa itu, sejak dari
waktu mati. sampai kepada
dikembalikan, adakalanya: dalam
perut burung hijau, yang
tergantung di bawah 'Arasy, jikalau
nyawa itu berbabagia. Dan
adakalanya dalam keadaan yang
berlawanan dengan keadaan di atas,
jikalau kita berlindung dengan Allah
ada nyawa itu tidak mendapat
kebabagiaan. Kalau anda bertanya:
"Apa sebabnya yang membawa
kepada su-ul-khatimah? Maka
ketahuilah, bahwa sebab-sebab
keadaan ini, tidak mungkin
dihinggakan dengan uraian. Akan
tetapi, mungkin diisyaratkan kepada
kumpulannya. Adapun kesudahan
dengan keraguan dan keingkaran,
maka terbatas sebabnya pada dua
perkara:
Pertama: tergambar kesudahan itu
serta sempurnanya wara' dan
zuhud dan sempurnanya kebaikan
pada amal-perbuatan, seperti orang
yang me-ngerjakan bid'ah, yang
zuhud. Maka akibatnya berbahaya
sekali. Walau pun amal-
perbuatannya shalih. Dan tidaklah
aku maksudkan suatu mazbab, lalu
aku katakan, bahwa: itu bid'ah. Maka
penjelasan yang demikian itu akan
panjang pembicaraan padanya.
Akan tetapi, aku kehendaki dengan
bid'ah, ialah: bahwa seseorang
beri'tikad mengenai zat Allah Ta'ala,
sifatNya dan afalNya, menyalahi
kebenaran. Lalu ia beri'tikad
menyalahi apa yang sebenamya.
Adakalanya, dengan pendapatnya,
dengan yang difikirinya dan
pandangannya, yang dengan
demikian itu, ia berdebat dengan
musuhnya. Kepada yang demikian,
ia berpegang. Dan yang demikian
itu, ia tertipu. Adakalanya, ia
mengambil dengan ikut-ikutan
(taqlid) dari orang, yang demikian
keadaannya. Maka apabila telah
mendekati mati, telah menampak
baginya ubun-ubun Malakul-maut
dan bergoncangan hati, dengan apa
padanya, kadang-kadang terbukalah
baginya dalam keadaan sakaratul-
maut itu, batalnya apa yang telah
dii'tikadkannya, karena kebodohan.
Karena keadaan mati itu, ialah:
keadaan terbukanya tutup. Dan
permulaan sakaratnya itu
daripadanya. Maka kadang-kadang
terbuka sebabagian perkara. Maka
manakala batallah padanya, apa
yang telah dii'tikadkannya
(diyakininya) dan ia telah
berketetapan hati dan yakin pada
dirinya, niscaya ia tidak menyangka,
bahwa ia bersalah pada i'tikad
tersebut khususnya. Karena ia
terbawa kepada pendapat yang batil
dan akal yang kurang. Bahkan, ia
menyangka, bahwa setiap apa yang
dii'tikadkannya itu tidak berasal.
Karena tak ada padanya, perbedaan
antara imannya kepada Allah dan
RasulNYA dan aqidah-aqidahnya
yang lain yang benar, dengan i'tikad
yang salah. Maka tersingkapnya
sebabagian aqidahnya dari
kebodohan, adalah sebab batalnya
aqidah-aqidahnya yang lain. Atau
karena keraguannya pada aqidah-
aqidah itu.
Kalau kebetulan keluar nyawanya
pada kali ini, sebelum ia tetap dan
kembali kepada pokok iman, maka
berkesudahanlah baginya dengan
keadaan buruk (su-ul-kha-timah).
Dan keluarlah nyawanya di atas
kemusyrikan.Kita berlindung dengan
Allah daripada yang demikian.
Mereka itulah Yang dimaksud
dengan firman Allah Ta'al:
Artinya: "Dan ketika itu, jelas bagi
mereka, bahwa apa-apa yang
dahulunya mereka tiada kira itu,
memang dari Allah". S.Az-Zumar.
ayat 47.
Dan dengan firmanNYA:
Artinya: "Katakan: Akan Kami
beritakankah kepadamu. orang-
orang yang paling rugi dalam
pekerjaannya? Mereka yang
terbuang saja usahanya dalam
kehidupan dunia. sedangkan mereka
mengira. bahwa mereka melakukan
usaha-usaha yang baik". S.AI-Kahf,
ayat 103 - 104.
Dan sebagaimana kadang-kadang
terbuka pada sakaratul-maut
sebabagian keadaan. Karena
kesibukan dunia dan nafsu keinginan
badan, itulah yang mencegah hati
daripada memperhatikan kepada
alam malakut (alam tinggi). Maka ia
membaca, apa yang pada Luh
Mahfudh, supaya terbuka baginya
keadaan yang sebenarnya. Maka
adalah contoh hal keadaan ini.
menjadi sebab bagi terbuka (al-
kasyaf). Dan adalah al-kasyaf itu
menjadi sebab keraguan pada
i'tikad-i'tikad lainnya.

No comments:

Post a Comment